Jangan Membentak Ibumu, Nak !!

MediandaTerkini – Saat ditanya siapa wanita paling indah dan baik di dunia ini? Semua anak pasti akan menjawab, Ibunya! Ya, ibu yakni wanita paling indah di dunia. Ibu juga seseorang yang sangat mulia, dan pendekar tanpa tanda jasa.


Namun, terkadang anak tidak bisa mengerti bagaimana perasaan Ibu. Kebanyakan anak seenaknya saja menyuruh dan membentak ibunya ketika keinginannya tidak terpenuhi. Wahai yang anak, bacalah dongeng yang menyentuh dibawah ini
“Bu, masakin air dong, Bu. Aku mau mandi pakai air hangat,” seorang anak meminta ibunya menyiapkan air hangat untuk mandinya.
Sang ibu dengan nrimo melakukan apa yang diperintah oleh sang anak. Dengan bunyi lembut ibunya menyahut, “Iya, tunggu sebentar ya, sayang!”
“Jangan terlalu lama ya Bu! Soalnya saya ada kesepakatan sama teman,” ujar sang anak.
Tidak lama kemudian sang ibu telah usai menyiapkan air hangat untuk buah hatinya.
“Nak, air hangatnya sudah siap,” ibu itu memberi tahu.
“Lama sekali sih, Bu…” kata anaknya sambi sedikit membentak.
Setelah simpulan mandi dan berpakaian rapi, sang anak berpamitan kepada ibunya, “Bu, saya keluar dulu ya, mau jalan-jalan sama teman.”
“Mau kemana, Nak?” tanya sang ibu.
“’Kan sudah saya bilang, mau keluar jalan-jalan sama teman,” kata sang anak sambil mengerutkan dahi.
Malam harinya, si anak pulang dari jalan-jalan. Sesampainya di rumah ia merasa kesal alasannya ibunya tidak ada di rumah. Padahal perutnya sangat lapar, di meja makan tidak ada makanan apa pun.
Beberapa ketika kemudian, ibunya datang sambil menegornya, “Nak, kau sudah pulang? Sudah dari tadi?”
“Hah! Ibu dari mana saja. Saya ini lapar, mau makan tidak ada makanan di meja makan. Seharusnya jika ibu mau keluar itu masak dulu…” kata si anak dengan bunyi sangat lantang.
Sang ibu mencoba menjelaskan sambil memegang tangan anaknya, “Begini sayang, kau jangan marah dulu. Ibu tadi keluar bukan untuk urusan yang tidak penting, kau belum tahukan jika istrinya Pak Rahman meninggal?”
“Meninggal? Padahal tidak sakit apa- apa ‘kan, Bu?” sang anak sedikit kaget, nada suaranya juga tidak tinggi lagi.
“Ia meninggal tadi sore, ketika melahirkan anaknya. Kamu juga harus tahu Nak, seorang Ibu itu bertaruh nyawa ketika melahirkan anaknya,” ibunya memperlihatkan penjelasan.
Hati sang anak mulai terketuk, dengan bunyi lirih ia bertanya pada ibunya, “Itu artinya, Ibu ketika melahirkanku juga begitu? Ibu juga mencicipi sakit yang luar biasa juga?”
“Iya, Anakku. Saat itu Ibu harus berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun, ada yang lebih sakit daripada sekadar melahirkanmu, Nak,” sang ibu menjawab.
“Apa itu, Bu?” si anak ingin tahu apa yang melebihi rasa sakit ibunya daripada ketika melahirkannya.
Sang ibu tak bisa menahan air mata yang mengalir dari setiap sudut matanya seraya berkata, “Rasa sakit ketika ibu melahirkanmu itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan rasa sakit yang Ibu rasakan ketika engkau membentak Ibu dengan bunyi lantang, ketika kau menyakiti hati Ibu, Nak.”
Mendengar hal itu, sang anak eksklusif menangis dan memohon ampun kepada ibunya. Ia begitu menyesal telah membentak dan menyuruh-nyuruh ibunya.
Bagi seorang Ibu, dibentak oleh anak sendiri terasa lebih sakit daripada ketika melahirkan anaknya. Bagaimana sikap kita terhadap Ibu kita?
Semoga kita semua bisa berbakti dan membahagiakan kedua orangtua kita

Sumber: intisari.grid.id
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below