Para Suami Dan Istri Baca!! Inilah Cemburu Yang Dibolehkan Dalam Rumah Tangga

MediandaTerkini – Sahabat medianda Terkini  perasaan cemburu dalam kehidupan rumah tangga yaitu sesuatu yang wajar dan manusiawai. Mungkin diantara kalian juga pernah mencicipi hal ini.  Namun perlu diingat asal jangan berlebihan dan membabi buta terhadap pasangan rumah tangga.  Ibaratnya sebuah api akan bermanfaat kalau digunakan secara proporsional, misalnya api lilin bisa menjadi penerang di daerah yang gelap, api kompor bisa digunakan untuk memasak, dan banyak lagi manfaat lainnya. Namun, api akan menjadi sangat berbahaya kalau digunakan secara berlebihan, misalnya dapat memperabukan rumah dan menghanguskan pasar.


Begitu juga dengan cemburu sobat medianda terkini. Hendaklah perasaan cemburu dirasakan sekadarnya saja. Jadikan cemburu hanya sebagai garam dalam percintaan, jangan jadikan sebagai sayurnya. Dalam bercinta, cemburu memang perlu alasannya yaitu kedalaman cinta patut dipertanyakan kalau tidak ada rasa ini. Namun, apabila api cemburu terlalu besar, akan sangat berbahaya. Selain dapat memperabukan diri sendiri, juga akan memperabukan orang lain.
Sifat cemburu lahir dari sikap tidak percaya diri, adanya kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan terhadap pasangan suami atau istri—yang akan tidak setia atau berpindah ke lain hati. Ketidakpercayaan ini akan menjadikan permasalahan dalam rumah tangga dan ini sebagai awal kehancuran.
Ada dua macam cemburu, faktual dan negatif. Ketika suami terlambat pulang, istri sibuk mencari tahu perihal eksistensi suaminya alasannya yaitu khawatir terjadi apa-apa pada diri sang suami, inilah cemburu yang positif.
Namun, kalau keterlambatan suami itu melahirkan prasangka buruk, berpikir yang tidak karuan sehingga melahirkan percekcokan, ini disebut cemburu yang negatif. Rasulullah Saw. melarang para suami maupun istri bersikap cemburu yang negatif, sabdanya,
“Sesungguhnya di antara cemburu ada cemburu yang dibenci Allah, yaitu cemburunya seorang laki-laki kepada istrinya tanpa alasan.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).
Hadits ini ditujukan kepada suami. Namun, alasannya yaitu kecemburuan juga bisa terjadi pada istri, keterangan ini berlaku juga untuk para istri.
Sahabat medianda terkini Maka, cemburu itu sehat asal positif. Ada yang mengatakan, cemburu tanda cinta. Ini benar kalau yang dimaksud yaitu cemburu positif. Banyak kasus perceraian yang berawal dari cemburu yang negatif. Ke mana saja istri atau suami pergi selalu dimata-matai, ada yang menelpon dicurigai, tersenyum pada tetangga dicaci, dan lain-lain. Ini akan menjadi awal petaka.
Banyak penyebab terjadinya cemburu negatif. Bisa alasannya yaitu tidak percaya diri atau cenderung berprasangka buruk ketika pasangan berada di sekitar lawan jenis yang memiliki kelebihan. Bisa juga alasannya yaitu pengalaman sering dikhianati ketika belum menikah sehingga beliau menjadi tidak mudah percaya lagi atau mungkin suami tidak pernah memperlihatkan cinta kasih–baik dengan bahasa lisan maupun nonverbal– sehingga istri merasa tidak dicintai lagi.
Untuk memperbaiki hal ini, cobalah pelajari kira-kira hal yang menjadi penyebabnya, kemudian lakukan komunikasi terbuka. Survei membuktikan, kalau komunikasi masih berjalan, kehancuran rumah tangga bisa dihindari. Sebaliknya, bila komunikasi sudah macet, tunggu saja kehancurannya, ia akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan dan di mana saja.
Untuk itu sebaiknya suami maupun istri hendaknya bisa mengelola cemburu dalam berumah tangga sehingga dapat menumbuhkan perasaan cinta yang semakin dalam terhadap pasangannya. Jangan hingga sebaliknya.

Semoga bermanfaat.
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below