Kisah Wafatnya Putri Kesayangan Nabi Muhammad

Hari ketiga bulan ampunan yakni hari wafatnya anak kesayangan baginda Nabi Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra. Fatimah yang juga istri Ali bin Abu Thalib, ini wafat pada 3 bulan ampunan tahun 11 Hijriah atau 23 November 632 Masehi. Dia dimakamkan pemakaman Baqi, Madinah.

Kepergian ibu dari Hasan dan Husein sungguh menyayat hati dan mengharu biru. Fatimah bergotong-royong sudah tahu kapan dirinya akan dipanggil Ilahi.

Alkisah ketika Rasulullah terbaring sakit, Fatimah tak henti-hentinya bersedih. Rasulullah pun membisikkan sesuatu ke indera pendengaran anaknya.

“Aku akan pergi tetapi engkau pertama yang akan menyusul,” ujar Rasulullah.

Sontak raut muka Fatimah menjadi senang alasannya keriduannya kepada ayahanda pasti segera tertambat. Banyak yang ingin tahu apa yang Rasulullah bisikkan kepada Fatimah, namun ditanya berapa kalipun Fatimah bergeming.
Fatimah menyadari ajalnya makin dekat, ketika itu beliau menemui ayahnya dalam mimpi.

“Wahai Fatimah! saya datang untuk memberi kabar bangga kepadamu. Telah datang ketika terputusnya takdir kehidupannya di dunia ini, putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah bagaimana kalau besok malam kau menjadi tamuku?”

Sebelum meninggal, Fatimah berlaku tidak biasa di dalam rumah beliau menyisir Hasan dan Husein dengan air mawar dan hati terus bergetar alasannya tahu beliau akan meninggalkan dua buah hatinya. Dia dekap Hasan dan Husein dan diciuminya dalam-dalam.

Ali melamun dan terus memandangi serpihan hatinya tersebut. lantas Fatimah berkata,

“Wahai Ali. Bersabarlah untuk deritamu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Jangan engkau melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kekasihku, suamiku, sahabat hidupku yang terbaik, sahabat diriku menyebarkan derita dan sahabat perjalananku”

Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan. Fatimah lalu meminta kedua anaknya berziarah ke pemakaman Baki. Anak-anaknya menurut. Untuk terakhir kali Fatimah memandang Ali: “Halal semua atasku wahai cahaya kedua mataku,” ujar Fatimah memohon maaf.

Fatimah berbaring dan menyuruh Asma binti Umais menyiapkan keperluan dan makanan. Tak disangka beberapa waktu sebelum ditariknya nyawa Fatimah, dua anaknya kembali ke rumah.

Fatimah pun menyuruh lagi keduanya pergi ke Raudah, beliau tidak ingin anaknya duka melihatnya menghadap Ilahi.

Dalam kesakitannya, Fatimah berbisik kepada Ali. Dia menitipkan wasiat kepada Ali, yaitu permohonan maaf kepada Ali, meminta Ali mencintai kedua anaknya, meminta dirinya dimakamkan pada malam hari supaya ketika dikebumikan tidak banyak dilihat manusia, dan meminta Ali untuk sering mengunjungi makamnya.

Saat menitipkan wasiat, tiba-tiba dua anaknya kembali dari Raudah. Sadar kondisi ibunya, mereka mendekap Fatimah erat-erat. Fatimah meminta keduanya supaya jangan berpaling di jalan Al-Quran, jalan Rasulullah dan melawan ayahnya.

Fatimah meminta semua orang keluar dari kamarnya, beliau hendak menyendiri dan ingin bersama tuhannya. Fatimah berpesan kalau tidak ada lagi sahutan dari dalam kamar maka jiwanya telah hilang. Dalam sekejap Madinah telah kehilangan mawarnya ketika Fatimah kembali keharibaan tuhan.

Sumber: fiqhmenjawab.net

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below