Bantu Sebarkan!! Ternyata Meniup Terompet Pada Tahun Baru Adalah Tradisi Orang Yahudi

Posted by: Tags:

Astaghfirullah !! Adzan Di Kumandangkan Untuk Iringi Lagu Gereja Di Perayaan Natal Bersama Nasional

Pada malam tahun barunya, masyarakat Yahudi melaksanakan introspeksi diri dengan tradisi meniup shofar (serunai), sebuah alat musik sejenis terompet. Bunyi shofar mirip sekali dengan bunyi terompet kertas yang dibunyikan orang Indonesia di malam Tahun Baru.
Sebenarnya, shofar (serunai) sendiri digolongkan sebagai terompet. Terompet diperkirakan sudah ada semenjak tahun 1.500 sebelum Masehi. Awalnya, alat musik jenis ini diperuntukkan untuk keperluan ritual agama dan juga digunakan dalam militer terutama ketika akan berperang. Kemudian terompet dijadikan sebagai alat musik pada masa pertengahanRenaisance hingga kini.
Inilah sejarah terompet dan asal penggunaannya. Dia merupakan syi’ar dan simbol keagamaan Yahudi dan orang-orang Kafir ketika merayakan tahun baru. Selain itu, terompet juga dipakai oleh bangsa Yahudi dalam mengumpulkan insan ketika mereka ingin beribadah dalam sinagoge (tempat ibadah) mereka.

Baca Juga : Setelah Murtad Dan Masuk Katolik Artis Papan Atas Asmirandah Jatuh Miskin

Perkara ini telah dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh sobat Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhu saat dia berkata,
“Dahulu kaum Muslimin ketika datang ke Madinah, mereka berkumpul seraya memperkirakan waktu sholat yang (saat itu) belum di-adzani. Di suatu hari, mereka pun berbincang-bincang perihal hal itu. Sebagian orang diantara mereka berkomentar, “Buat saja lonceng sepertilonceng orang-orang Nashoro”. Sebagian lagi berkata, “Bahkan buat saja terompet seperti terompet kaum Yahudi”. Umar pun berkata, “Mengapa kalian tak mengutus seseorang untuk memanggil (manusia) untuk sholat”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai Bilal, bangkitlah lalu panggillah (manusia) untuk sholat (adzan)”. (HR. Al-Bukhari nomor 604 dan Muslim nomor 377)
Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memperlihatkan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan semoga memakai terompet. Nabipun tidak setuju, dia bersabda :  ‘Membunyikan terompet yakni perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan semoga memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu yakni perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi memikirkan semoga yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, dia diajari cara beradzan”. (HR. Abu Daud, shahih)

Baca Juga : Astaghfirullah, Menjelang Tahun Baru Beredar Terompet Berbahan Sampul Al-Qur’an

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Terompet dan sangkakala sudah dikenal. Maksudnya (hadits ini), bahwa terompet itu ditiup lalu berkumpullah mereka (orang-orang Yahudi) ketika mendengar bunyi terompet. Ini yakni syi’ar kaum Yahudi. Ia disebut juga dengan shofar (serunai)”. [Lihat Fathul Bari (2/399), cet. Dar Al-Fikr]
Syaikhul Islam Abul Abbas Al-Harroniy rahimahullah berkata, “Tujuan kita disini bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala membenci terompet Yahudi yang tertiup dengan verbal dan lonceng Nashoro (Kristen) yang dipukul dengan tangan, maka dia menjelaskan alasannya yakni (beliau membenci terompet) bahwa ini (terompet Yahudi) termasuk urusan agama Yahudi, dan dia menjelaskan alasannya yakni (beliau membenci lonceng) bahwa ini (lonceng Nashoro) termasuk urusan agama Nashoro.
Karena penyebutan sifat setelah hukum menunjukkan bahwa ia yakni alasannya yakni bagi kebencian tersebut. Ini mengharuskan pelarangan dari segala perkara yang termasuk urusan agama Yahudi dan Nashoro”. Demikianlah perkaranya. Padahal terompet Yahudi, konon kabarnya ia terambil dari Musa –alaihis salam- dan bahwa di zaman dia terompet ditiup. Adapun lonceng, maka ia perkara yang diada-adakan. Sebab lebih banyak didominasi syariat kaum Nashoro telah diada-adakan oleh para pendeta dan jago ibadah mereka.
Kebencian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap terompet Yahudi dan lonceng Nashoro demi menyelisihi mereka. Ini menuntut dibencinya jenis bunyi ini secara mutlak pada selain sholat juga. Karena hal itu termasuk urusan agama Yahudi. Sebab orang-orang Nashoro memukul lonceng di luar waktu-waktu ibadah mereka… Sungguh kebanyakan orang dari kalangan umat ini (baik raja, maupun selainnya) telah tertimpa oleh syi’ar Yahudi dan Nashoro ini”. [Lihat Al-Iqtidho’ (5/19)]
Apa yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam rahimahullah amatlah benar. Anda lihat di malam tahun baru, banyak diantara kaum Muslimin yang jahil ikut meniup terompet. Padahal semua itu yakni syi’ar agama Yahudi yang dilarang untuk ditiru.
Jika ada yang berkata, “Ini kan sekedar tiup terompet, kenapa dilarang?“. Maka jawabannya : Keserupaan fisik dan dzahir mampu membuat kedekatan hati dan batin. Contoh sederhananya, misalnya jikalau sesroang bertemu dengan orang lain yang seragamnya sama, maka ia akan eksklusif merasa dekat dan mampu jadi akrab. Inilah penyebab dilarangnya mirip suatu kaum diluar Islam.
Lantaran itu, perbuatan ini kita harus jauhi, alasannya yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : 
“Barang siapa yang mirip suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”. (HR. Abu Dawud nomor 4031). Dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah nomor 4347)
Walaupun dalam hal yang mungkin dianggap kecil mirip terompet, akan tetapi Rasulullahshallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan hal ini. Karena sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal dan mulai dari hal yang kecil akan mengikuti mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jikalau orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”. (HR. Muslim nomor 2669)

Baca Juga : FUI : Indonesia Darurat Pemurtadan, Lebih Dari Dua Juta Orang Murtad Setiap Tahunnya

Berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah dan yang lainnya dari kalangan salaf,
“Sungguh orang  yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan jago ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nashrani”. (Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim 1/79 Dar A’Alamil Kutub, Beirut, cet. VII, 1419 H, tahqiq: Nashir Abdul Karim Al-‘Aql, Syamilah)
Orang Nashrani dan Yahudi tidak akan ridha hingga kita mengikuti mereka. Allah Ta’alaberfirman : 
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kau hingga kau mengikuti agama mereka”. (QS. Al-Baqarah 2 : 120)
Terakhir, kami nasihatkan kepada kaum Muslimin semuanya semoga menjauhkan terompet-terompet Yahudi dari bawah umur dan rumah-rumah kita setelah kita mengetahui keharamanya, serta membenci dan meninggalkannya. Sebab, benda itu hanyalah mengingatkan kita kepada agama dan syi’ar kekafiran mereka, yakni bangsa yang disebut Tuhan sebagai bangsa monyet dan babi, yakni Yahudi. [AH/mac/pao]
Sumber : Manjanik.com
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below