PANDANGAN ISLAM TENTANG HUKUM KARMA

Posted by: Tags:

“Hukum Karma” yakni konsep aqidah dari agama Hindu dan Budha. Pada luarannya ia yakni hukum alasannya dan jawaban (Baik menjadikan keelokan, jahat menjadikan keburukan). Hukum alasannya dan jawaban diakui oleh Islam, namun ia tidak berjalan sendiri, sebaliknya ia sebahagian dari sunnatullah. Menurut Islam, tidak ada yang berlaku di alam tanpa tertakluk kepada ketentuan Tuhan atau takdirNya.

Itu dilihat pada luaran hukum karma. Jika dibaca lebih lanjut ihwal hukum karma, hakikat hukum hukuman alam terlalu jauh menyimpang dari aqidah Islam.

Di antara yang ditulis dalam Wikipedia versi Indonesia ihwal hukum karma; “Sang Buddha menguraikan ihwal Hukum Karma : ‘Takdir yakni hukuman alam dari kumpulan perbuatan masa lalu. Karma masa lalu menjadi takdir pada kehidupan yang sekarang. Karma ketika ini yakni pembentuk kehidupan selanjutnya” (https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Hukum_Karma).

Dalam aqidah Islam, kehidupan kita hari ini tiada kaitan dengan hukuman alam masa lalu. Setiap bayi yang lahir, lahir di atas fitrah. Kelahirannya bukan dari hukuman alam dari yang silam, tetapi lahir dari takdir Allah, dengan kelahiran yang fitrah (bersih dari dosa dan tanggungan). Kerana itu para Fuqahak menegaskan; al-Asl baraatu az-zimmah (Asal setiap insan yakni bebas tanggungan).

Disebutkan juga dalam sumber yang sama (contoh karma); “Kenapa di kehidupan ini anda hidup sebatang kara (anak yatim), Sebab di kehidupan yang lalu anda sering menembak burung“.

Dalam doktrin Islam, kehidupan kita yang lalu ialah kehidupan dalam perut ibu. Pada ketika itu, kita belum dianggap hidup, apatahlagi hendak dianggap mukallaf. Maka bagaimana orang yang belum hidup dan tidak mukallaf hendak dipertanggungjawabkan, kemudian dibalas dalam kehidupan hari ini bagi perkara yang ia tidak pernah lakukan.

Menurut aqidah Islam, insan hanya akan dipertanggungjawabkan bermula dari ketika ia pintar baligh (mula cukup umur dan berakal) dalam kehidupan di dunia ini. Dari ketika itu perbuatan-perbuatannya dikira dan tertakluk dengan hukum-hakam Syariat Tuhan di dunia dan pembalasanNya di akhirat.

Wallahu a’lam.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.